Syair : Pengertian, Ciri-Ciri dan Contohnya

Syair : Pengertian, Ciri-Ciri dan Contoh – Perkembangan karya sastra di Indonesia dikelompokkan ke dalam dua periode, yaitu periode sastra Indonesia  lama dan sastra Indonesia baru, yang berupa prosa dan puisi.

Sastra lama sendiri terdiri dari prosa lama dan puisi lama. Salah satu karya sastra lama yang akan dibahas di dalam artikel ini adalah syair dan ciri-ciri syair.

Sastra lama yang berkembang di Indonesia ini dipengaruhi oleh bangsa lain. Selain syair, ada beberapa karya sastra lama lainnya, yaitu gurindam, karmina, dan pantun. Simak artikel berikut ini mengenai ciri-ciri syair dan contohnya. 

Apa itu Syair ?

Syair merupakan salah satu jenis puisi lama yang berasal dari Arab atau Persia. Syair mulai masuk ke Indonesia bersama dengan masuknya Islam yang dibawa oleh para pedagang yang datang ke Indonesia. Kata syair sendiri diambil dari bahasa Arab yaitu Syi’ir atau Syu’ur yang memiliki makna “perasaan yang menyadari”. 

Istilah syair di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri adalah puisi lama yang tiap baitnya terdiri dari empat baris yang memiliki akhiran bunyi yang sama.

Ciri-Ciri Syair

ciri ciri syair

Sebagai salah satu karya sastra Indonesia lama, ada beberapa ciri-ciri syair yang bisa dijadikan pembeda dari karya sastra Indonesia lainnya antara lain sebagai berikut. 

1. Empat Baris dalam Satu Baris

Salah satu ciri-ciri syair adalah terdapat empat baris (larik) dalam tiap baitnya. Sebagai contoh penggalan satu bait syair yang menunjukkan ciri tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Rakitnya hanyut dari hulu, 
  2. menurut air hilir selalu,
  3. segala yang memandang belas dan pilu,
  4. masing-masing berenang berebut dahulu.

2. Rima yang Sama

Ciri-ciri syair yang membedakan dengan karya sastra lainnya adalah terletak pada rimanya. Rima atau bunyi pada akhir kalimat pada syair berpola a-a-a-a. Sebagai contoh rima pada syair adalah sebagai berikut.

Setengah ramai rebut-rebutan,

nyatalah mayat tampak kelihatan,

sekaliannya terkejut salah ingatan,

rasanya takut bukan buatan.

(Syair “Raden Menteri Menemukan Mayat Ken Tambuhan karya Hooykaas, 1953)

Pada penggalan syair di atas menunjukkan adanya persamaan bunyi atau rima di setiap akhir kalimat atau pada akhir baris (larik), yaitu rima pada kata ‘rebutan’, ‘kelihatan’, ‘ingatan’, dan ‘buatan’ yang memiliki pola a-a-a-a..

3. Jumlah Kata

Ketentuan dalam puisi lama yaitu syair adalah dalam satu kalimat harus terdiri dari minimal empat kata dan maksimal 6 kata. Sebagai contoh dapat dilihat dari penggalan syair berikut ini. 

  1. Raden/pun/segera/datang/melihati/
  2. serta/dipandang/diamat-amati/
  3. mayat/istrinya/nyatalah/pasti/
  4. Raden/terkejut/berdebar/hati/

Pada baris (1) terdapat 5 kata, baris (2) terdapat 4 kata, baris (3) terdapat 4 kata, dan baris (4) terdapat 4 kata. Dari contoh syair di atas, tidak ada baris yang mengandung kurang dari 4 kata dan leboh dari 6 kata.

4. Jumlah Suku Kata

Dalam syair, ketentuan jumlah suku kata dalam satu baris terdiri dari 8 hingga 12 suku kata atau bisa dikatakan tidak boleh kurang dari 8 suku kata dan tidak boleh lebih dari 12 suku kata setiap barisnya. Berikut ini adalah contoh syair karya Hooykaas.

  1. Ra-den pun se-ge-ra da-tang me-li-ha-ti
  2. ser-ta di-pan-dang di-a-mat-a-mat-i

Pada baris (1) mengandung 12 suku kata dan baris (2) mengandung 11 suku kata. Seperti pada ketentuan yang sudah berlaku, jika suku kata pada syair sekitar 8 sampai 12 suku kata pada setiap barisnya.

5. Tidak Ada Sampiran

Ciri-ciri syair lainnya adalah tidak terdapat sampiran dan hanya berupa isi. Jika pada pantun, baris pertama dan kedua merupakan sampiran dan baris ketiga dan keempat merupakan isi, maka pada syair mulai bari pertama hingga keempat merupakan isi. 

Bisa diartikan pula bahwa dalam syair semua baris (larik) adalah isi yang bersifat berkesinambungan dan tidak selesai hanya dalam satu bait saja, karena syair sendiri digunakan untuk menyampaikan sebuah pesan atau cerita.

Contoh Syair dan Maknanya

contoh syair dan maknanya

Sebagai contoh yaitu syair berjudul “Kelinci Sakit Perut”

1. Ada kelinci haus sekali,

mencari air ke sana kemari,

mendapat air kotor di kali,

kelinci minum sepuas hati. 

2. Kelinci tidur di pohon manggis,

bangun tidur kelinci menangis, 

menahan sakit sambil meringis,

perutnya besar tak mau kempis. 

3. Lebah datang langsung berseru,

aku kemari membawa madu,

untuk mengobati perutmu itu,

supaya sembuh seperti dulu,

4. Kelinci minum madu murni,

perut sembuh tak sakit lagi,

kelinci berkata di dalam hati

aku tidak minum air kotor lagi.

Dari contoh syair di atas bisa disimpulkan jika antara bait (1) dengan bait (2) saling berhubungan dan merupakan sebuah kisah atau cerita. Isi syair di atas menceritakan tentang kelinci yang sakit perut karena minum air kotor. Keempat bait tersebut saling berhubungan sehingga tidak dapat dipisahkan.

6. Isi Syair adalah Sebuah Cerita

Isi syair menceritakan suatu kisah yang mengandung unsur sejarah, mitos, agama/filsafat, atau hanya rekaan belaka (dongeng), sehingga terdiri lebih dari satu bait. Berikut ini jenis syair berdasarkan isinya. 

  • Syair agama yang menceritakan tentang kisah yang mengandung ajaran atau nilai-nilai agama.
  • Syair panji yang menceritakan tentang suatu kejadian atau peristiwa di suatu kerajaan. 
  • Syair sejarah yang menceritakan tentang peristiwa atau kejadian yang pernah terjadi dan menjadi sejarah. 
  • Syair rekaan yang berisi tentang suatu kejadian yang tidak benar-benar terjadi (fiktif/rekayasa) dan mengandung pesan tertentu.
  • Syair romantis yang menceritakan tentang kisah percintaan. 

Ulasan mengenai ciri-ciri syair di atas bisa dijadikan sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan bagi Anda. Dengan pembahasan yang ada di artikel ini, Anda diajak untuk lebih mengenal karya sastra lama Indonesia, khususnya tentang syair. 

Leave a Comment