Prosedur Ekspor Barang

Jika berbicara tentang ekspor, maka ini merujuk pada sistem perdagangan dalam lintas negara. Mereka yang melakukan kegiatan ini akan disebut sebagai eksportir.

Dibandingkan dengan impor, prosedur ekspor barang lebih mudah karena peraturannya juga lebih sedikit. Pastinya prosedur ini harus dipahami oleh Anda yang ingin bergerak di perdagangan dengan luar negeri.

Untuk itu, berikut ini akan disampaikan berbagai hal tentang ekspor dan prosedurnya yang harus Anda tahu. Yuk disimak!

Prosedur Ekspor Barang secara Umum

Siapkan Barang yang akan Dikirim

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah barang yang akan dikirim. Terkait dengan hal ini, barang tersebut harus barang yang diperbolehkan untuk diekspor. Barang yang diperbolehkan untuk diekspor ini ada dua, yakni boleh dengan pembatasan dan bebas yang harus mengacu dengan undang-undang dan peraturan yang ada di Indonesia.

Selain itu, Anda harus memperhatikan apakah barang tersebut juga termasuk barang yang diperbolehkan untuk masuk ke negara tujuan atau tidak. Misalnya boleh, tetapi Anda masih belum mendapatkan pembeli di sana, bisa langsung lakukan strategi pemasaran baik itu offline maupun online.

Tetapi kalau sudah boleh dan ada pembelinya, Anda harus menyiapkan barang yang akan dikirim sekaligus dengan dokumennya sesuai kesepakatan yang disetujui dengan pembeli tersebut.

Biasanya juga setelah terjadi kesepakatan negosiasi, akan dibuat sales contract atau kontrak dagang.

Setelah itu, pihak eksportir perlu menghubungi perusahaan pengangkut, bisa maskapai pelayaran maupun penerbangan. Tujuannya adalah untuk booking, mendapatkan kepastian jadwal sekaligus pelaksanaan pengiriman barang ekspor yang dimaksud.

Laporan ke Bea Cukai

Kalau barang yang akan diekspor sudah siap dan sudah ada jadwal kapal yang akan mengangkutnya pula, Anda masih perlu mengajukan dokumen atau melaporkan atau mendaftarkan kegiatan yang akan dilakukan ke pemerintah Indonesia. Untuk ini instansi yang dimaksud adalah Bea Cukai.

Pelaporan tersebut menggunakan dokumen khusus yang disebut dengan PEB atau Pemberitahuan Ekspor Barang. Dokumen ini nantinya juga harus dilengkapi oleh dokumen pelengkap lain.

Pendaftaran PEB juga harus disertai dengan NIPER atau Nomor Induk Perusahaan yang kemudian disampaikan paling cepat 7 hari sebelum hari atau tanggal perkiraan ekspor. Sementara untuk paling lambatnya adalah sebelum barang yang akan diekspor masuk ke kawasan pabean.

PEB ini nanti juga akan berisi data mengenai barang ekspor yang di antaranya adalah negara tujuan, sarana yang akan mengangkut barang, data customs broker bila ada, data penerima barang, data eksportir serta detail barang yang umumnya meliputi nomor kontainer yang dipakai, dokumen yang menyertai serta jumlah dan jenis barang.

Mendapatkan Persetujuan dari Bea Cukai

Setelah PEB tersebut diajukan dan disetujui oleh pihak bea cukai, maka nanti akan diberikan NPE atau Nota Persetujuan Ekspor. Dengan terbitnya NPE ini, maka barang yang akan Anda ekspor tadi secara hukum telah dianggap sebagai barang ekspor serta boleh dimuat ke dalam pesawat atau kapal untuk diberangkatkan ke negara yang dituju.

Tambahan informasi, untuk masing-masing dokumen PEB akan diwajibkan membayar pendapatan negara bukan pajak. Ini bisa dilakukan melalui kantor bea cukai setempat maupun melalui bank. Adapun mengenai pajak barang untuk ekspor, besarnya berbeda-beda dan masing-masing barang juga terdapat aturannya tersendiri.

Contohnya, jika barang yang diekspor adalah kayu. Maka kayu tersebut membutuhkan dokumen laporan surveyor dan endorsement dari Badan Revitalisasi Industri Kayu. Barang tambang juga ada yang memerlukan laporan surveyor. Intinya ketentuan untuk masing-masing barang berbeda-beda.

Pemuatan Barang dalam Kapal

Setelah tiga hal di atas siap, maka pihak Anda yang menjadi eksportir sudah bisa melakukan pengapalan atau handling barang yang hendak dikirimkan. Dalam proses pengapalan ini aktivitasnya bermacam-macam.

Di antaranya yaitu menyiapkan barang yang akan diekspor di gudang eksportir, kemudian membuat dokumen yang berhubungan dengan pengapalan. Dokumen ini biasanya terdiri atas packing list, invoice dan lain-lain.

Selanjutnya mengemas barang yang harus menyesuaikan dengan standar yang telah disepakati bersama pembeli, proses stuffing atau memuat barang ke dalam kontainer (ini jika pengapalannya memakai kontainer) dan mempersiapkan truk yang akan membawa kontainer tersebut ke pelabuhan. Terakhir, memuat barang tersebut ke pesawat atau kapal laut.

Dalam pengapalan ini pula, apabila pihak pembeli mengharuskan barang ekspor tersebut disertai dengan SKA, maka Anda juga harus mengurus dokumen SKA. SKA ini sendiri adalah Surat Keterangan Asal atau Certificate of Origin di instansi terkait dengan melampirkan dokumen tertentu.

Mengirimkan Dokumen Pengapalan ke Pembeli

Begitu pesawat atau kapal yang mengangkut barang ekspor berangkat ke negara yang dituju, maka perusahaan yang mengangkut barang tersebut akan mengeluarkan dokumen pengapalan. Dokumen pengapalan ini ada dua, yaitu Bill of Lading atau B/L dan Air Way Bill atau AWB.

Bill of Lading atau B/L tersebut adalah sebutan untuk dokumen pengapalan yang barang ekspornya dikirim menggunakan kapal laut. Sementara Air Way Bill atau AWB merupakan sebutan untuk dokumen pengapalan yang barang ekspornya dikirim menggunakan pesawat udara.

Oleh perusahaan pengangkut, dokumen-dokumen baik B/L atau AWB ini nanti akan diserahkan ke eksportir. Nantinya, eksportirnya akan mengirimkannya ke pembeli yang ada di luar negeri.

Dokumen ini keberadaannya juga tidak bisa dianggap remeh karena menjadi syarat wajib bagi pembeli untuk bisa mengambil barang di pelabuhan tujuan, setelah barang tersebut tiba.

Mengambil Pembayaran

Agar barang yang diekspor bisa lebih aman, Anda dapat mengasuransikan barang tersebut. Selanjutnya, Anda bisa mengambil pembayaran di bank apabila pembayaran yang disepakati menggunakan LC atau Letter of Credit atau pembayaran di akhir setelah barang ekspor dikapalkan.

Untuk soal pembayaran ini macam-macam. Ada yang menggunakan metode pembayaran di akhir, ada pula yang pembayarannya di awal atau full payment sebelum barang ekspor dikapalkan.

Ada juga yang menggunakan pembayaran sebagian terlebih dahulu sebagai uang muka. Nanti pembayaran akan dilunasi setelah barang berangkat atau dokumen pengapalan rilis.

Kurang lebih itulah prosedur ekspor barang yang harus dipatuhi bila Anda ingin mengekspor barang ke luar negeri. Akan tetapi untuk menjadi eksportir juga ada syarat khusus yang harus dipenuhi. Syarat-syarat tersebut bisa Anda ketahui informasinya di bawah ini.

Syarat Menjadi Eksportir

  1. Badan hukum yang bisa berbentuk CV atau Commanditaire Vennootschap, Koperasi, Perjan atau Perusahaan Jawatan, Perum atau Perusahaan Umum, Persero atau Perusahaan Perseroan, PT atau Perseroan Terbatas dan Firma
  2. Mempunyai NPWP atau Nomor Pokok Wajib Pajak
  3. Memiliki izin yang dikeluarkan oleh pemerintah misalnya surat izin industri yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian, SIUP atau Surat Izin Usaha Perdagangan yang dikeluarkan oleh Dinas Perdagangan, Izin Usaha PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) atau bahkan PMA (Penanaman Modal Asing) yang dikeluarkan oleh BKPM atau Badan Koordinasi Penanaman Modal

Untuk mengirimkan barang ke luar negeri, prosedur ekspor barang di ataslah yang harus Anda perhatikan. Jangan lupa perhatikan pula ketentuan dan syarat menjadi eksportir agar tidak ada hambatan nantinya. Mengingat masing-masing barang juga ada ketentuannya.

Leave a Comment