Produksi Massal: Definisi, Ciri, Keuntungan, Kekurangan, Contoh

Produksi secara massal memang identik dengan menghasilkan barang dalam jumlah banyak atau lebih banyak dari biasanya karena permintaan yang melonjak. Permintaan ini sangat identik dengan adanya kegiatan yang genting serta menuntut adanya produksi barang secara massal.

Contoh konkret produksi massal sedang dialami saat ini, yakni keadaan genting akibat adanya wabah virus corona.

Kebutuhan produk masker dan sabun cuci tangan atau hand sanitizer saat ini sangat dibutuhkan dalam jumlah banyak. Berikut merupakan beberapa hal yang perlu diketahui dalam produksi secara massal.

Definisi Produksi Massal

Dalam proses produksi secara massal, produsen melakukan pembuatan produk yang dibutuhkan konsumen secara berulang-ulang. Proses produksi yang telah dihasilkan dalam jumlah banyak tersebut kemudian akan didistribusikan kepada konsumen secara berturut-turut agar kebutuhan yang sedang dialami segera teratasi.

Lalu, apa itu produksi secara massal?

Produksi massal adalah cara suatu perusahaan atau produsen melakukan kegiatan produksi secara terus menerus dan menghasilkan produk dalam jumlah besar sesuai dengan standar operasional. Meskipun demikian, tidak semua barang produksi dapat diproduksi secara massal , contohnya adalah bahan bakar.

Barang produksi yang bisa dibuat secara massal adalah barang-barang yang standar, terutama barang-barang yang memiliki tahap perakitan.

Ciri-Ciri Produksi secara Massal

Dalam kegiatan produksi secara massal, terdapat beberapa ciri-ciri yang bisa diketahui dengan manajemen perusahaan yang berdasar pada standar usaha dari mulai perencanaan, controlling, serta hasil yang diputuskan.

Berikut merupakan ciri-ciri yang dimiliki produksi secara massal yang dimaksud.

Pengurangan Pegawai

Ciri yang pertama adalah adanya pengurangan pegawai dalam produksi secara massal. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya produk yang akan dihasilkan, sementara tenaga manual dari pegawai tidak memungkinkan untuk dipakai untuk menyelesaikannya.

Untuk itu, pegawai akan dikurangi dan digantikan dengan teknologi mesin yang lebih canggih dan lebih cepat.

Mesin yang canggih akan menghasilkan produk lebih efisien dibandingkan tenaga manusia yang lebih cepat lelah.

Standar Urutan

Dalam kegiatan produksi secara massal, produksi akan diurutkan sesuai polanya yang runtut. Kegiatan produksi akan dimulai dari tahap pengumpulan bahan baku hingga menjadi bahan jadi.

Urutan dalam produksi secara massal adalah urutan maju, sehingga memiliki sifat tidak adanya pencampuran bahan jadi ke dalam proses bahan setengah jadi.

Teknologi Mesin Khusus

Seperti yang dikatakan tadi, produksi secara massal lebih mengandalkan kecanggihan teknologi dibandingkan dengan tenaga manusia.

Untuk menghasilkan berbagai macam produk dalam jumlah besar, tentu mesin yang digunakan haruslah merupakan mesin khusus. Sistem produksi seperti ini banyak dipakai oleh perusahaan besar, sedangkan perusahaan kecil sangat jarang.

Bahan Produksi Menggunakan Mesin

Penggunaan mesin pada bahan produksi juga ditujukan agar proses produksi bisa sesuai waktu, sehingga konsumen yang membutuhkan bisa memenuhi kebutuhannya tepat waktu.

Sebaliknya, jika proses produksi tidak sesuai dengan target waktu yang dijadwalkan, maka produksi menjadi tidak efisien dan proses pemasaran juga tidak menjadi maksimal.

Supervisi Mesin

Banyaknya sektor mesin yang digunakan kerap kali menimbulkan masalah seperti kerusakan sistem. Untuk menangani masalah kerusakan atau galat pada mesin, maka dibutuhkan para supervisi yang ahli di bidang permesinan tersebut.

Dengan adanya supervisi yang siap sedia mengatasi kerusakan, maka proses produksi tidak akan terhambat dalam waktu yang lama.

Keuntungan Memproduksi secara Massal

Produksi secara massal rupanya juga menimbulkan kelebihan yang bisa dirasakan baik oleh perusahaan maupun para konsumen. Berikut beberapa keuntungan atau kelebihan dari adanya produksi secara massal.

Kecepatan Meningkat

Penggunaan teknologi mesin yang canggih dalam setiap proses produksi akan membuatnya menjadi lebih cepat. Dengan begitu, produsen dapat menghasilkan produk dalam jumlah besar meskipun dalam waktu yang sangat singkat. Selain itu, cepatnya proses produksi dengan sedikitnya tenaga pegawai akan dapat meningkatkan persaingan bisnis, tentunya juga menekan biaya produksi.

Manajemen Penilaian Lebih Efektif

Perusahaan haruslah memperhatikan standar key performance indikator, yakni produksi harus sesuai dengan ketepatan sasaran. Dengan begitu, produksi utama dapat digabungkan dengan produksi massal yang dalam hal ini adalah produksi tambahan menjadi mekanisme hasil produk akhir.

Adanya percampuran kedua produksi ini manajemen penilaian produksi akan menghasilkan nilai akurasi yang sesuai dengan sasaran, sehingga kesalahan margin bisa dihasilkan dalam tingkat yang rendah.

Finansial Perusahaan Lebih Efisien

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, pengurangan pegawai akan berakibat pada berkurangnya biaya produksi yang sebelumnya digunakan untuk membayar tenaga pegawai yang bekerja. Pengurangan biaya ini menjadikan finansial perusahaan menjadi lebih efisien karena jumlah hasil produksi menjadi lebih besar.

Kekurangan Memproduksi secara Massal

Ternyata tak hanya memberikan keuntungan saja, melainkan produksi secara massal juga memiliki kekurangan, di antaranya sebagai berikut.

Pengurangan Pegawai

Adanya penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin canggih memaksa perusahaan yang menerapkan produksi secara massal harus melakukan pengurangan pegawai. Pengurangan ini ditujukan untuk mempercepat waktu dan memperbanyak hasil produksi sesuai target. Hal ini menjadi kelemahan sistem produksi secara massal karena menambah pengangguran.

Para pegawai yang kurang berkompeten akan secara otomatis terkena PHK dan yang tersisa adalah pegawai yang dibutuhkan dalam pengoperasian. Pegawai yang masih bekerja juga terkena imbasnya karena jika biasanya terdapat shift pergantian jam kerja pada produksi utama, dengan berkurangnya pegawai ini shift tersebut menjadi tidak ada.

Risiko Kerugian Tinggi

Risiko mesin yang mengalami kerusakan pada proses produksi secara massal bukan tidak mungkin terjadi. Kerusakan ini dapat menyebabkan kerugian pada produsen karena mau tidak mau harus ada biaya tambahan yang dikeluarkan untuk mengatasinya.

Selain itu, mesin yang rusak juga menyebabkan kegiatan produksi berhenti, sehingga tidak bisa sesuai target waktu yang ditentukan.

Di sisi lain, produksi yang harus dilanjutkan dengan mengesampingkan mesin yang rusak, tentu mengharuskan perusahaan menyediakan mesin cadangan yang artinya pengeluaran akan bertambah juga.

Harus Menyesuaikan Permintaan Konsumen

Risiko lain yang menjadi kekurangan sistem produksi secara massal ini adalah permintaan produk dalam skala besar hanya mengikuti permintaan pembeli. Akibat dari hal ini adalah dapat menurunnya tingkat permintaan oleh konsumen karena minat akan produk tersebut menurun atau bahkan tidak laku di pasaran. Adanya hal itu bisa menyebabkan produk menjadi kedaluwarsa, cacat, hingga rusak.

Antusiasme konsumen pada suatu barang produksi tidak selamanya sama, bahkan cenderung menurun dari waktu ke waktu. Permintaan konsumen yang tidak dapat diprediksi menyebabkan produksi secara massal tidak bisa berlangsung dalam jangka panjang.

Contoh Produksi Massal

Contoh barang yang diproduksi secara massal adalah:

  • Motor
  • Minuman bersoda
  • Smartphone
  • Televisi
  • Semen
  • Buku tulis
  • Pensil
  • Sepatu
  • Korek api
  • Alat kesehatan
  • Masker
  • Hand sanitizer

Serta masih banyak lagi contoh barang yang bisa diproduksi secara massal.

Produksi secara massal perlu memikirkan berbagai aspek dalam kegiatan produksi. Beberapa penjelasan di atas diharapkan dapat membantu dalam memberikan gambaran mengenai apa itu yang disebut produksi secara massal.

Leave a Comment