Jenis-Jenis Tenaga Kerja

Masalah ketenagakerjaan yang dihadapi pemerintah memang cukup kompleks. Dinamika dunia kerja bergerak dengan cepat mengikuti perkembangan zaman.

Namun, sudahkah Anda mengetahui apa itu jenis-jenis tenaga kerja yang berperan dalam faktor produksi suatu negara?

Tenaga kerja sendiri merupakan individu yang mampu bekerja, baik yang sudah memiliki pekerjaan maupun masih dalam proses mencari kerja. Hal ini merupakan kebutuhan pokok manusia guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ketidakseimbangan antara jumlah tenaga kerja dengan banyaknya lapangan pekerjaan dapat berakibat buruk terhadap perekonomian suatu negara.

Jenis-Jenis Tenaga Kerja di Masyarakat

Jika ditanya mengenai jenis-jenis tenaga kerja, mungkin orang akan langsung berfikir mengenai tenaga kerja terdidik dan tidak terdidik. Namun, klasifikasi tenaga kerja ini pada dasarnya lebih kompleks.

Bergantung dari mana sudut pandang yang dilihat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Berikut merupakan beberapa jenis tenaga kerja yang bisa ditemui di kehidupan bermasyarakat.

1. Tenaga Kerja Menurut Kemampuannya

Berdasarkan kemampuan atau keahliannya, tenaga kerja dibagi menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut.

Tenaga Kerja Terdidik

Sesuai dengan namanya, tenaga kerja ini harus menempuh pendidikan formal terlebih dahulu sebelum terjun ke dunia kerja. Profesi yang dipilih seorang tenaga kerja terdidik perlu memiliki riwayat pendidikan tinggi.

Gelar yang dibutuhkan biasanya minimal berupa S1 (Strata 1), contoh tenaga kerja terdidik adalah guru, insinyur, dokter, akuntan, polisi, dan lain-lain.

Profesi-profesi tersebut wajib melampirkan ijazah akademi formal sebelum terjun langsung ke dunia kerja. Jika tidak melalui pendidikan yang sesuai, profesi yang telah disebutkan di atas tidak bisa dilakukan atau ilegal. Misalnya profesi dokter yang mengharuskannya menempuh pendidikan tinggi, baik dokter umum maupun spesialis.

Hal ini merupakan sebuah tanggung jawab penting yang nantinya akan dilaksanakan. Oleh karena itu, institusi formal berperan penting dalam mencetak tenaga kerja terdidik di setiap negara.

Baca juga: Angkatan Kerja

Tenaga Kerja Terlatih

Berbeda dengan tenaga kerja terdidik, tenaga kerja terlatih lebih mengandalkan keterampilan khusus yang dimilikinya. Jenis pekerjaan yang dilakoni tidak mewajibkannya memiliki riwayat pendidikan yang tinggi. Oleh karena itu, jenis tenaga kerja ini tidak mengandalkan ijazah formal ketika memperoleh pekerjaannya.

Namun, Ia harus menguasai keterampilan tertentu dan memiliki daya tangkap yang baik sesuai bidangnya. Biasanya keterampilan tersebut bisa didapat dari kursus dalam jangka waktu tertentu.

Selain itu, tenaga kerja ini juga mengandalkan pengalaman dan banyaknya praktek yang dilakukan. Contoh tenaga kerja terlatih adalah sopir, teknisi, montir, penjahit, dan lain-lain.

Dengan skill yang mumpuni, tenaga kerja terlatih bisa unggul dalam pekerjaan sekalipun tidak memiliki ijazah formal. Oleh karena itu, tak heran jika sudah banyak perusahaan yang membuka peluang bagi tenaga kerja terlatih. Meski sebuah ijazah cukup penting dalam persyaratan dokumen lamaran kerja, namun kualitas skill juga diutamakan.

Tenaga Kerja Tidak Terdidik

Jenis tenaga kerja ini tidak memiliki riwayat pekerjaan tinggi dan tidak memiliki skill khusus di bidang tertentu. Biasanya pendidikan yang ditempuh hanya sampai SMP, SD, bahkan tidak menempuh pendidikan formal sama sekali. Tenaga kerja tidak terdidik masih banyak ditemui di negara-negara berkembang.

Contoh profesi dari jenis tenaga kerja ini adalah buruh cuci, kuli bangunan, buruh rongsok, pembantu rumah tangga, dan lain-lain.

Tenaga kerja tidak terdidik cenderung mendapat penghasilan yang rendah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, pekerjaan yang ada relatif tidak tetap dan bergantung kondisi saat itu.

2. Tenaga Kerja Menurut Sifatnya

Berdasarkan sifat atau karakteristiknya, tenaga kerja diklasifikasikan sebagai berikut.

Tenaga Kerja Rohani

Jenis tenaga kerja ini mengandalkan kemampuan pemikiran atau psikis yang dimilikinya. Dibanding tenaga fisik yang dikeluarkan, jenis profesi yang dilakoni lebih menuntut analisis otak.

Tenaga kerja rohani biasanya ditemui di area kerja yang bersih, sopan, dan berpenampilan bail. Contoh profesinya adalah direktur, kepala divisi, manajer, pengawas pabrik, kepala cabang, dan lain-lain.

Profesi-profesi tersebut lebih banyak menggunakan daya analisis terhadap bisnis yang berjalan. Oleh karena itu, tanggung jawab yang diemban memang cukup besar.

Tenaga Kerja Jasmani

Sesuai dengan namanya, jenis tenaga kerja ini mengandalkan kekuatan fisik sebagai modal utamanya. Ketika bekerja, kemampuan jasmani lebih banyak digunakan dibanding kemampuan otak untuk berfikir.

Jumlah tenaga kerja jasmani cenderung lebih banyak dibanding tenaga kerja rohani. Contoh yang banyak ditemui misalnya buruh pabrik, tukang panggul, dan lain-lain.

Di negara-negara berkembang, tenaga kerja jasmani jumlahnya masih banyak. Selain itu, seringkali upah yang didapat sangat rendah.

3. Tenaga Kerja Menurut Kaitannya dengan Produk

Jenis tenaga kerja juga bisa digolongkan berdasarkan hubungannya dengan produk yang dihasilkan. Berikut beberapa di antaranya.

Tenaga Kerja Langsung

Tenaga kerja ini banyak terjun langsung ketika melakukan pekerjaannya. Artinya, ia berkontribusi langsung tanpa perantara dalam produksi suatu produk. Contoh profesi yang dijalankan adalah seorang operator produksi di suatu pabrik. Seorang operator di area produksi akan menjalankan mesin produksi sesuai standar perusahaan.

Dengan demikian, Ia memiliki tanggung jawab secara langsung terhadap produk yang dihasilkan. Selain itu, resiko pekerjaan pun cukup tinggi karena mesin produksi yang dikenal rentan mengalami kecelakaan kerja.

Tenaga Kerja Tidak Langsung

Jenis tenaga kerja ini tidak berkaitan secara langsung dengan hasil produk di pabrik. Namun, ia tetap berkontribusi terhadap hasil produksi barang. Misalnya adalah profesi desainer produk yang merancang tampilan produk yang akan dipasarkan.

4. Tenaga Kerja Menurut Fungsi Pokok di Perusahaan

Tenaga kerja juga dapat digolongkan menurut fungsi utamanya di bidang industri yang dijalankan. Di antaranya adalah sebagai berikut.

Tenaga Kerja Bagian Produksi

Tenaga kerja ini berkontribusi dalam pembuatan produk atau barang yang nantinya akan dipasarkan oleh perusahaan. Contohnya tenaga kerja bagian produksi adalah operator produksi yang bekerja di sebuah pabrik.

Tenaga Kerja Bagian Marketing

Marketing atau pemasaran memang menjadi bagian penting dalam suatu industri produk. Tenaga kerja bagian ini akan memasarkan produk yang dihasilkan perusahaan.

Seorang marketing bertanggung jawab atas penjualan produk yang telah dibuat agar dikenal masyarakat luas.

Tenaga Kerja Bagian Administrasi dan Umum

Tenaga kerja bagian administrasi dan umum merupakan tenaga kerja yang mengurus dokumen dan surat menyurat perusahaan. Oleh karena itu, perannya berada di belakang layar dan tidak terjun langsung dalam produksi barang.

Contoh tenaga kerja bagian administrasi dan umum adalah staff administrasi dan sekretaris.

5. Tenaga Kerja Menurut Jenis Pekerjaan

Berdasarkan jenis pekerjaan yang dilakoni, tenaga kerja digolongkan menjadi sebagai berikut.

Tenaga Kerja Lapangan

Tenaga kerja jenis ini banyak terjun langsung di lapangan. Dengan demikian, Ia berpengaruh secara langsung terhadap proses pemasaran. Contohnya adalah profesi marketing lapangan.

Tenaga Kerja Pabrik

Tenaga kerja ini bekerja di pabrik yang bergerak di suatu industri tertentu. Ada banyak posisi yang bisa ditempati, contoh mudahnya adalah buruh pabrik di bagian produksi.

Tenaga Kerja Kantor

Tenaga kerja kantor adalah tenaga kerja yang bekerja di kantor suatu perusahaan, misalnya di bagian administrasi dan keuangan.

Jenis-jenis tenaga kerja di atas pada dasarnya saling berkaitan satu sama lain. Di suatu negara, setiap tenaga kerja memiliki peranannya masing-masing di suatu industri. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah menjamin hak dan kewajiban pekerja demi kesejahteraan ekonomi.

Leave a Comment