10 Contoh Komoditas Impor Indonesia

Meski dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, kenyataannya Indonesia belum bisa lepas dari kegiatan impor. Pada dasarnya, hal ini merupakan kewajaran karena setiap negara pasti membutuhkan peran negara lainnya untuk bekerja sama.

Tak heran Indonesia memiliki sejumlah komoditas impor dari negara lain.

Permintaan masyarakat lokal terhadap komoditas tertentu seringkali tidak sebanding dengan jumlah produksi. Oleh karenanya, pemerintah melakukan impor.

Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari kelangkaan bahan pangan atau sektor lainnya sehingga harga di pasaran tetap terkontrol.

Daftar Komoditas Impor Indonesia

1. Aluminium

Aluminium merupakan jenis logam yang banyak digunakan dalam konstruksi, peralatan rumah tangga, elektronik, dan lain-lain. Sifatnya yang mudah dibentuk membuat material ini banyak diperlukan, termasuk di Indonesia.

Komoditas ini memiliki nilai impor yang fantastis di tanah air, yaitu sekitar Rp12,1 triliun.

Jumlah ini didominasi dari impor Aluminium dari China. Jika dikalkulasikan, jumlah impor material tahan karat ini mencapai 311.11 juta kilogram.

Jumlah yang sangat besar ini membuat pemerintah berupaya meminimalisirnya dengan membangun Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Pulau Kalimantan.

2. Buah dan Sayuran

Meski dikenal sebagai negara agraris, nyatanya Indonesia juga masih rajin mengimpor sayur dan buah. Buah-buahan asal China menjadi yang terbanyak diimpor, yaitu berjumlah 397.7 juta kilogram.

Nilai impor buah ini jika ditotal memang bisa dibilang fantastis, yaitu sebesar Rp10.2 triliun.

Tidak hanya buah, sayuran dari China pun ikut mendominasi, nilainya mencapai Rp7.25 triliun. Dengan kata lain, jumlah sayuran yang diimpor dalam negeri sejumlah 603.8 juta kilogram.

Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa bawang putih menjadi komoditas sayur dan buah terbesar yang diimpor pemerintah per 2019.

3. Pipa Besi dan Baja

Pipa besi dan baja merupakan material yang banyak digunakan dalam bangunan modern. Kebutuhan di dalam negeri terhadap komoditas ini terbilang tinggi. Tiongkok merupakan pemasok utama pipa besi dan baja untuk berbagai kebutuhan di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu, pipa besi dari Negeri Tirai Bambu mencapai 54% dari keseluruhan jumlah impor. Total impor material ini diketahui sejumlah 325.900 ribu ton.

Dengan demikian, Tiongkok menyumbang material sejumlah 175.900 ribu ton pipa besi, fantastis bukan?

Jika dikalkulasikan nilai impor tersebut mencapai Rp1.87 triliun. Tidak sampai di situ, tahun lalu rupanya terjadi peningkatan impor pipa besi dan baja menjadi Rp5.7 triliun dari China. Selain itu, Indonesia juga mengimpor kedua material ini dari Iran dengan nilai impor Rp226.3 miliar.

4. Tembaga

Pada awal 2020 lalu, kenaikan nilai impor China memang cukup besar dan berpengaruh terhadap perekonomian. Salah satunya adalah nilai impor tembaga yang mencapai level tertinggi sejak 2016 lalu.

Nilai impor tembaga China pada akhir 2019 lalu meningkat hingga 9.1%. Dengan demikian, jumlah impor material ini mencapai 527.000 ton.

Berdasarkan data dari bea cukai China, kenaikan nilai impor ini karena produktivitas pabrik yang semakin meningkat. Hal ini tidak dibarengi dengan pasokan logam bekas yang mencukupi.

5. Minyak Bumi

Kekayaan alam Indonesia memang melingkupi sumber daya minyak bumi. Baik dari segi jumlah dan kualitas, minyak bumi dalam negeri memang termasuk unggul. Namun, kenyataannya pemerintah tetap perlu melakukan impor bahan bakar kendaraan ini.

Hal ini menyebabkan Indonesia harus mendatangkan minyak bumi dari negara lain. Setidaknya terdapat 4 negara yang menjadi pemasok komoditas ini di tanah air.

Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa minyak bumi yang diimpor Indonesia 41% berasal dari Arab Saudi, 29.4% dari Nigeria, 14.2% dari Australia, dan 5% dari Aljazair.

6. Tembakau

Tembakau yang merupakan bahan dasar produk rokok ternyata banyak diimpor dari Tiongkok. Nilai impor komoditas ini mencapai Rp2.3 triliun atau sebesar 38.5 juta kilogram.

Besarnya kebutuhan tembakau dalam negeri memang tidak sebanding dengan suplai domestik. Hal inilah yang membuat pengusaha rokok mendatangkan tembakau dari luar negeri.

Produktivitas tembakau dalam negeri memang terbilang masih rendah. Selain itu, tata niaga dalam pengelolaan tanaman ini juga belum dilakukan dengan baik. Namun, impor ini pada dasarnya dilakukan industri rokok dalam bentuk bahan mentah. Bahan baku ini nantinya dibuat cerutu yang akan diekspor ke berbagai negara.

7. Garam dan Sulfur

Indonesia memang dikenal sebagai negara maritim dengan garis pantai yang luas. Hal ini mungkin terbilang aneh jika kenyataannya negara kita masih perlu mengimpor garam. Namun, hal inilah yang terjadi dalam perekonomian nasional.

Di awal 2020 lalu, pemerintah telah membuka keran impor garam hingga berjumlah 2.92 juta ton. Jumlah ini meningkat dari tahun lalu dengan jumlah 2.75 juta ton.

Impor garam ini memang sempat menjadi perhatian banyak kalangan. Kualitas garam lokal setelah diteliti ternyata belum sesuai dengan kebutuhan industri.

Spesifikasi garam yang dibutuhkan adalah kandungan NaCl harus di atas 97%. Oleh karena itu, impor garam ini dianggap penting karena masalah kualitas menjadi kebutuhan utama bagi industri. Sumber utama impor garam ini adalah dari negara Iran dengan nilai impor mencapai Rp303.6 miliar.

8. Beras

Siapa yang tidak mengenal Indonesia dengan julukan negara agraris? Pada kenyataannya, negara kita masih harus mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Beberapa negara yang menjadi importir makanan pokok ini antara lain Myanmar, Thailand, Vietnam, dan lain-lain.

Pemerintah telah mengimpor beras dari negara-negara tersebut hingga berjumlah 302.71 kilogram. Impor beras pada dasarnya bukan hal yang asing bagi Pemerintah Indonesia. berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) kegiatan impor beras di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 2000.

9. Susu

Pemerintah Indonesia telah mengimpor susu sejumlah 139.68 kilogram. Komoditas ini didapat dari beberapa negara importir susu ke dalam negeri, misalnya Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Jerman, Belgia, dan lain-lain. Kebutuhan akan susu memang belum bisa dipenuhi jika mengandalkan peternakan susu domestik.

Seperti yang telah diketahui, jumlah sapi perah dalam negeri terbilang masih minim. Hal inilah yang membuat impor susu masih digenjot guna memenuhi kebutuhan pasar.

10. Gula Tebu

Sepanjang pertengahan tahun 2020, Indonesia telah mengimpor gula tebu dengan nilai 195 juta USD. Dengan kata lain, sejumlah 560.000 ton gula telah memasuki pasar dalam negeri. Pada dasarnya, industri gula domestik memang sudah memasuki panen beberapa waktu lalu.

Namun, impor gula tebu ternyata masih dibutuhkan untuk mengontrol ketersediaan gula di dalam negeri. Negara-negara yang menjadi importir utama gula tebu antara lain India, Thailand, dan Brazil.

Kegiatan impor nasional pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan perekonomian dalam negeri. Beberapa komoditas impor di atas menunjukkan bahwa negara kita masih bergantung pada negara lain guna memenuhi kebutuhan.

Leave a Comment